Meneguhkan Persatuan di Tengah Keberagaman
FGD mengangkat tema "Meneguhkan Persatuan Bangsa dan Cinta Tanah Air di Tengah Keberagaman serta Penguatan Akhlakul Karimah dalam Kehidupan Sosial Budaya Lintas Agama."Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan bagi seluruh peserta dalam menghadapi dinamika sosial keagamaan yang terus berkembang, menjelang pelaksanaan Musda VIII.
Agama Tidak Perlu Dimoderasi
Di akhir sesi FGD menghadirkan Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., M.A., Direktur Eksekutif Rumah Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, dengan materi Moderasi Beragama sebagai Pilar Akhlakul Karimah di Era Multikultural.Prof. Usep menegaskan satu poin yang kerap disalahpahami publik: objek moderasi bukan agama, melainkan umat pemeluknya.
"Yang dimoderasi itu umat beragama, bukan agama. Agama sudah benar, tidak ada yang perlu dimoderasi," tegasnya.
Ia merujuk pada Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai pijakan utama moderasi beragama, termasuk keteladanan Rasulullah ﷺ dalam menyikapi perbedaan. Menurutnya, perbedaan adalah kehendak dan ciptaan Allah SWT, sehingga siapa pun yang merendahkan perbedaan, pada hakikatnya merendahkan ciptaan-Nya.
"Kalau kita melecehkan perbedaan, sama dengan melecehkan ciptaan Allah. Maka kita harus berakhlakul karimah," ujarnya, seraya mengutip surah Al-Ahzab ayat 21 tentang keteladanan Rasulullah ﷺ: Laqad kana lakum fii rasulillahi uswatun hasanah.
Latar Belakang Lahirnya Program Moderasi Beragama
Prof. Usep menjelaskan, program Moderasi Beragama lahir dari keprihatinan pemerintah atas munculnya sikap merasa paling benar atas nama agama dan menyalahkan pihak lain — yang pada titik ekstremnya berujung pada tindakan kekerasan seperti pengeboman di Bali.Sebagai respons, pemerintah merancang program Moderasi Beragama dan menitipkannya di Kementerian Agama.
Program ini kemudian bergulir pada masa kepemimpinan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, yang mengamanatkan seluruh lembaga di bawah naungan Kementerian Agama untuk mendirikan Rumah Moderasi Beragama di masing-masing institusinya.
Salah satunya adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tempat Prof. Usep kini mengemban amanah sebagai Direktur Eksekutifnya.
"Di era sekarang sudah tidak ada lagi batas. Kita berkomunikasi lintas suku, bangsa, dan agama," katanya.
Dalam kondisi demikian, ketika interaksi lintas identitas semakin intens, akhlakul karimah menjadi pengikat sekaligus pelindung harmoni sosial. Sikap saling menghargai perbedaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
Tantangan Era Multikultural
Prof. Usep juga menyoroti tantangan kehidupan beragama di era kini yang ia sebut sebagai era multikultural — sebuah kondisi di mana batas-batas antar suku, bangsa, dan agama semakin cair."Di era sekarang sudah tidak ada lagi batas. Kita berkomunikasi lintas suku, bangsa, dan agama," katanya.
Dalam kondisi demikian, ketika interaksi lintas identitas semakin intens, akhlakul karimah menjadi pengikat sekaligus pelindung harmoni sosial. Sikap saling menghargai perbedaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
Pembekalan Strategis Jelang Musda VIII
FGD Kebangsaan dan Keagamaan ini merupakan bagian dari serangkaian agenda Road to Musda VIII LDII Kabupaten Bandung 2026 yang dirancang untuk memperkuat kapasitas organisasi sekaligus mempertegas kontribusi LDII dalam kehidupan berbangsa dan beragama.Dengan dihadirinya forum ini oleh para Ketua PC se-Kabupaten Bandung, sebagian Ketua PAC, Wanhat, serta jajaran pengurus DPD, kegiatan ini mencerminkan keseriusan LDII Kabupaten Bandung dalam membangun konsolidasi organisasi yang kokoh menjelang Musda VIII.
Ketua DPD LDII Kabupaten Bandung, Drs. H. Didin Suyadi, menegaskan pentingnya forum ini bagi keberlangsungan organisasi ke depan.
"Ini pembekalan yang penting bagi pengurus saat ini maupun calon pengurus mendatang, agar memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang kuat sebagai dasar menjalankan organisasi," pungkasnya.***
Ketua DPD LDII Kabupaten Bandung, Drs. H. Didin Suyadi, menegaskan pentingnya forum ini bagi keberlangsungan organisasi ke depan.
"Ini pembekalan yang penting bagi pengurus saat ini maupun calon pengurus mendatang, agar memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang kuat sebagai dasar menjalankan organisasi," pungkasnya.***




Posting Komentar